Melihat Kembali Menstruasi

Illustrasi oleh : Maria Angelita

Artikel ini pernah terbit di zine Aksara Kecil Bahagia Vol I

Kita­­­ tumbuh dalam masyarakat di mana perbincangan dan obrolan tentang menstruasi dan seks sebagai ilmu pengetahuan adalah hal yang tabu. Dalam rentang usia tertentu, perbincangan mengenai menstruasi dianggap tidak pantas. Semacam ada ketakutan bahwa seorang anak yang membincangkan tentang haid dan seksualitas maka anak tersebut akan menjadi anak yang ‘saru’ dan berpikiran kotor. Padahal pengetahuan mengenai menstruasi dan seksualitas harusnya menjadi perbincangan yang bebas nilai, justru kita dan orang dewasa lainnya lah yang seringkali mengkonstruksikan wawasan tersebut sebagai sesuatu yang jorok, saru, tidak pantas, dan bahkan mungkin cabul. Hal tersebut akhirnya terinternalisasi menjadi nilai yang dipegang banyak orang, bahkan menjadi norma kolektif di banyak kebudayaan.

Edukasi tentang haid dan seks harusnya menjadi lebih terbuka dan ilmiah. Orbolan tentang menstruasi yang lebih terbuka dan ilmiah juga akan menyelamatkan perempuan yang akan menghadapi siklusnya masing-masing dari bahaya informasi yang menyesatkan.Penyampaian informasi bisa dilakukan dari berbagai lingkup masyarakat dan dengan berbagai cara.

Seorang ibu bisa sangat hangat berbincang dengan anak perempuannya tentang nilai ujian matematika, tapi tidak pada obrolan tentang menstruasi. Padahal orang tua seharusnya memegang peran strategis dalam transfer ilmu pengetahuan termasuk kondisi biologis pada anak perempuannya. Orang tua seharusnya menjadi gerbang dalam obrolan mengenai tema-tema kesehatan harian. Untuk itu diperlukan pula edukasi bagi orang tua mengenai wawasan kesehatan reproduksi remaja.

Kesehatan reproduksi pada fase remaja sangatlah penting. Mengapa menjadi penting? Ternyata belajar tentang kebersihan selama menstruasi merupakan aspek penting dari pendidikan kesehatan untuk remaja perempuan, karena pola yang dikembangkan pada masa remaja cenderung bertahan sampai dewasa . Jadi jika remaja perempuan pada awal masa menstruasinya memiliki kebiasaan yang salah, besar kemungkinan untuk terbawa sampai ke kehidupan dewasa. Selain itu keluhan gangguan menstruasi pada remaja dan praktik higienis selama menstruasi yang salah dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang tidak diinginkan seperti penyakit radang panggul dan bahkan infertilitas (El-Ganiya et al., 2005).

Di banyak belahan dunia dengan berbagai macam kebudayaan, perempuan selalu menjadi pihak yang tidak diuntungkan. Sialnya mitos-mitos tentang menstruasi juga ikut andil dalam mengkonstruksinya. Masalahnya kita terkadang permisif terhadap hal-hal yang sebenarnya melanggar prinsip-prinsip kesehatan maupun hak asasi manusia hanya karena atas nama budaya.

Di perdesaan Nepal misalnya perempuan yang sedang haid harus menjalani tradisi Chhaupadi, di mana mereka harus mengasingkan diri tinggal terpisah dari keluarga dan tinggal di sebuah gubuk, gudang, atau bahkan kandang hewan. Dalam kepercayaan mereka, jika ketentuan itu dilanggar maka dewa dewi akan marah dan petaka akan datang. Selama periode menstruasi, perempuan juga dilarang memasuki kuil dan dilarang mengikuti upacara pernikahan. Yang lebih tragis, mereka tak diperbolehkan mengkonsumsi makanan bergizi seperti daging, buah segar, sayuran hijau, hingga susu. Mereka hanya bertahan dengan nasi, garam, dan beberapa makanan kering. Itu artinya selama pengasingan perempuan berada pada masa dan kondisi yang rentan dalam hal kesehatan dan keselamatan. (Yantina Debora, 2017, https://tirto.id/tradisi-chhaupadi-saat-perempuan-haid-dianggap-membawa-sial-cuzS , diakses pada Juni 2018)

Manju Baluni’s, seorang perempuan berusia 32 tahun dalam artikel di BBC yang berjudul ‘100 Women 2014 The taboo of menstruating in India mengatakan, “Saya tidak akan membiarkan anak perempuan saya mengalami derita yang saya alami ketika saya sedang menstruasi. Keluarga saya memperlakukan saya sepertitidak tersentuh. Saya tidak dibolehkan untuk masuk ke dapur, saya tidak bisa masuk ke kuil, dan tidak boleh duduk bersama orang lain.”  

Tabu dan stigmatisasi terkait menstruasi membawa dampak lebih buruk lagi bagi perempuan-perempuan muda di sub-Sahara, Afrika. Dilansir dari Huffingtonpost, banyak perempuan sub-Sahara Afrika yang akhirnya meninggalkan kelas selama berhari-hari saat menstruasi, bahkan segelintir terpaksa putus sekolah karenanya (Rupa Jha, 2014, https://www.bbc.com/news/world-asia-29727875, diakses pada Juni 2018).

Stigma negatif masyarakat pada perempuan yang menstruasi ternyata tidak hanya terjadi di pedesaan. Dalam sebuah penelitian terkini oleh sebuah perusahaan pembalut, ditemukan bahwa 75% wanita yang tinggal di kota membeli pembalut dengan dibungkus plastik berwarna gelap atau koran karena merasa malu diasosiasikan dengan menstruasi (Patresia Kirnandita, 2017, https://tirto.id/apakah-menstruasi-masih-perlu-dianggap-tabu-ctxj  diakses pada Juni 2018).  Hal ini sangat mengejutkan bagaimana seorang perempuan membeli benda untuk keperluan primer namun harus malu atau sungkan karena akan diasosiasikan dengan sesuatu yang memalukan. Sungguh tidak masuk akal seorang perempuan harus merasa seperti membeli video porno hanya untuk mengakses pembalut.

Konstruksi Sosial Menstruasi

Berbagai bentuk mitos tentang menstruasi di atas memberikan gambaran dan pemahaman yang sangat keliru. Pemahaman yang keliru tersebut implikasinya akan membentuk konstruksi sosial yang sangat merugikan bagi perempuan. Konstruksi sosial tersebut memposisikan perempuan yang sedang haid menjadi pihak yang aksesnya sangat dibatasi. Mulai dari akses terhadap pendidikan, akses terhadap kesehatan, dan bahkan akses terhadap politik keseharian. Pada akhirnya menstruasi mempunyai andil dalam melanggengkan kekuasaan lelaki dalam budaya patriarkisnya.

Bagaimana mitos tentang menstruasi dapat membuat perempuan berada dalam posisi yang dirugikan dalam konstruksi masyarakat ? Mari kita lihat. Irwan Abdullah dalam jurnalnya menuliskan “Dari sudut pandang lain, menstruasi adalah penanda kedewasaan bagi perempuan, saat perempuan mulai memiliki hak untuk terlibat dalam pembicaraan, lebih bebas berbicara, boleh untuk memiliki sesuatu, dan juga memiliki sumber otoritas yang secara inheren merupakan ancaman bagi kekuasaan laki-laki. Mitos bahwa menstruasi adalah ‘penyakit’, ‘darah kotor’, dan semacamnya yang ditegaskan dalam berbagai pranata merupakan ancaman bagi laki-laki. Dengan penjinakan melalui konstruksi sosial, menyebabkan perempuan tidak memiliki kekuasaan pada tingkat komunitas.”[i]

Konstruksi sosial yang merugikan perempuan tersebut tidak hanya terjadi pada lingkungan komunitas, tapi juga terjadi pada lingkungan pekerjaan.  Hal tersebut dapat dilihat bagaimana lingkungan memiliki standar ganda dalam pemaknaan terhadap menstruasi. Di satu sisi mereka melihat menstruasi dan  PMS (pre-mentrual syndrom atau sindrom sebelum masa menstruasi) sebagai penghambat kemampuan bekerja perempuan. Di satu sisi penerimaan tentang hal tersebut tetap tidak membuat perempuan mendapatkan haknya seperti hak cuti haid. Hal ini sejalan dengan apa yang dituliskan Irwan Abdullah. “Dalam hal ini terdapat sikap ambivalensi dengan memberlakukan standar ganda, di satu sisi adanya PMS ditegaskan untuk kepentingan marginalisasi, di sisi lain keberadaannya tidak diakui pada saat menyangkut hak-hak yang harus diterima perempuan” (Irwan Abdullah, 2002).

Pembacaan yang kritis atas pemitosan haid dan konstruksi sosial akibat pemitosan tersebut menjadi penting karena implikasinya adalah menjadikan posisi perempuan yang ter-subordinate dan rentan untuk menjadi korban kekerasan baik fisik maupun simbolik. Maka dari itu diperlukan sudut pandang sains untuk menilik kondisi perempuan yang sedang menstruasi.

Perlunya Pandangan Sains

Pendekatan sains adalah salah satu pendekatan yang reliable, terutama untuk menghancurkan berbagai mitos yang ada dalam masyarakat. Ketika berbagai mitos tentang menstruasi memiliki dampak yang berbahaya bagi perempuan seperti sudah dijelaskan di atas, kita memerlukan pisau analitis lain yang reliable ini untuk membaca fenomena menstruasi. Sehingga perempuan yang sedang menstruasi bisa mendapatkan perlakuan yang tepat atas fenomena biologis rutinnya tersebut, serta mendapatkan hak-haknya dengan baik.

Ada banyak sekali penjelasan sains tentang menst yang dapat kalian akses mulai dari buku hingga internet. Tetapi ada bebapa hal yang jadi poin utama, yaitu :

  1. Sains memberikan kita pemahaman bahwa menstruasi adalah proses biologis, yang sama sekali tidak ada kausalitasnya pada ‘martabat’ wanita. Menstruasi tidak membuat seorang wanita kehilangan haknya untuk mengakses pendidikan ataupun hal lainnya.
  2. Sains memberikan kita pemahaman bahwa menstruasi adalah proses biologis yang memberi dampak-dampak biologis tertentu pada perempuan seperti nyeri di bagian-bagian tubuh, kram perut, dan perubahan hormon yang signifikan dapat menyebabkan perubahan mood yang sinifikan pula. Jadi jangan ikut senewen kalau ada perempuan yang sedang haid menjadi rewel karena badannya sakit atau mungkin pacarmu yang sedang haid moodnya menjadi tidak karuan. :))

Jangkauan sains hari ini harusnya mampu mengubah pembacaan atas haid. Kita tidak bisa lagi menyandarkan bagaimana kita bersikap terhadap siklus haid seseorang pada mitos-mitos usang. Perempuan lebih membutuhkan informasi tentang bagaimana treatment yang benar selama nyeri haid, kiranti rasa apa yang enak, atau kelas yoga yang asik untuk mengatasi  kram perut. Bukan malah mengintroduksi mitos-mitos yang kembali lagi akan merugikan perempuan. Mari kita bantu para perempuan dan orang lain untuk memahami menstruasi dengan benar sedari dini agar para perempuan tetap dapat mengakses hak-haknya dengan baik selama menstruasi 🙂

Catatan : artikel ini adalah versi lebih panjang dari caption post instagram kami. Kalian dapat follow juga akun instagram kami @kolektif.kecil.bahagia

(Gamping, 26 Juni 2018)

 Listen-Read-Organize!

Rujukan :

El-Ganiya , 2005; Sharma, 2013 ; dkk, dalam Sitti Nur Djannah, Erni Gustina, dkk, 2015 :  Jurnal            Kesehatan Masyarakat, Sumber Informasi Dan Pengetahuan Tentang Menstrual Hygiene    Pada Remaja Putri

Irwan Abdullah, 2002, dalam Jurnal Humaniora berjudul Mitos Menstruasi : Konstruksi Budaya atas        Realitas Gender

https://tirto.id/tradisi-chhaupadi-saat-perempuan-haid-dianggap-membawa-sial-cuzS diakses pada            Juni 2018

https://tirto.id/apakah-menstruasi-masih-perlu-dianggap-tabu-ctxj  diakses pada Juni 2018

https://www.bbc.com/news/world-asia-29727875  diakses pada Juni 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *