Repost : Wawancara dengan Kak Erma tentang pentingnya “parenting di era digital”

Usia pengurus forum anak saat ini seharusnya adalah generasi yang lahir pada circa 2001-2004. Atau sering juga disebut dengan generasi Z sedangkan era awal di mana eksistensi forum anak mulai terbentuk di dominasi oleh generasi Y. Tentu saja hal tersebut menjadi hal yang menarik, karena terdapat perbedaan lingkungan (budaya maupun alam) serta perbedaan teknologi antar generasi tersebut. Bagaimana generasi Z saling berinteraksi satu sama lain tentu saja akan memiliki dinamika yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Terutama adalah bagaimana paparan teknologi dan informasi saat ini jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mungkin kita akan menyongsong era baru, era Forum Anak 4.0 hahahahaha.

Menanggapi hal tersebut kami redaksi web Forum Anak Kulon Progo melakukan repost sebuah artikel yang pernah di muat di sebuah webzine bernama Aksara Kecil Bahagia Vol II, yang berjudul Wawancara Dengan Erma Wiena : Pentingnya Parenting di Era Digital. Teman-teman dapat mengunduh versi lengkapnya di sini.

Perkembangan ilmu pengetahuan membawa progresifitas bagi berbagai penciptaan dan inovasi pada teknologi. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan penggunaan teknologi tersebut menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Terlebih akses untuk mendapatkan teknologi tersebut semakin mudah, baik dari sisi ketersediaan maupun dari sisi ekonomi/harga. Implikasinya sekarang pengguna teknologi makin banyak dari rentang usia anak-anak hingga usia lansia. Selain berbagai kemudahan yang ditawarkan, perkembangan teknologi juga turut mengubah berbagai perilaku, kebiasaan, dan pola interaksi manusia termasuk dalam urusan pengasuhan anak.

Bentuk-bentuk dan tata cara pengasuhan anak pada era di mana paparan informasi yang masif dan penggunaan teknologi semakin jamak tentu berbeda dengan pola pengasuhan di mana hal-hal tersebut belum ada.  Untuk menggali berbagai hal tentang parenting di era digital kami redaksi aksara kecil bahagia melakukan wawancara dengan kawan kami yang terlibat dalam berbagai aktifitas memasyarakatkan wacana tentang parenting di era digital yaitu Kak Erma Wiena.

Note : Heningtyas (J), Akbar Fadzilla (A), Syaiful Nuha (I), Agustinus Anang (AA), Erma Setyo Wienari/ Kaer (K)

J : Halo Kaer selamat malam
K : Halo selamat malam juga
J : Apa kabar Kak?
K : Baik dooong
J : Kaer sibuk apa sekarang?
K : Sibuk belajar dan main
J : Belajar dan main di mana nih Kak?
K : Mainnya di komunitas, belajarnya di UGM, Magister Studi Kebijakan Publik. Komunitasnya di SOS Children Village Jogja.
J : Kaer sering bahas parenting di era digital ya kak, boleh dong kak kita ngobrol-ngobrol tentang digital parenting ini.
K : Iyaa, boleh banget.
J : Parenting di era digital itu apa kak?
K : Parenting di era digital adalah pengasuhan anak di era digital, atau era yang semuanya serba internet. Mungkin teman-teman sudah tau lah ya kita sekarang masuk di era yang semuanya serba internet. Orang-orang menyebutnya disruption era. Era dimana teknologi mengambil alih kehidupan (apalagi internet), termasuk dalam pengasuhan anak. Disruption era adalah era yang mengambil alih banyak hal,  misal dari sisi pembayaran, atau teknologi di tansportasi ada gojek. Disrupsi itu mengganti peran sesuatu, dari yang sebelumnya dia baik-baik aja, ada si pengganti ini, dia jadi ilang. Gampangnya gitu. Nggak cuma di MEA ya, tapi disruption itu mengambil alih misalnya yang berhubungan dengan  anak, ada permainan tradisonal sudah hilang diambil alih dengan  game online. Meskipun di game online pun ada yang mengangkat tentang permainan tradisonal juga tapi fokusnya udah berbeda, dari yang biasanya anak berinteraksi dengan  manusia, sekarang interaksinya dengan  hand phone (HP)  .
J : Menurut Kaer parenting di era digital ini penting gak?
K : Ya, penting banegt. Jelas apalagi  kalo ga mau anak-anaknya punya ‘kehidupan sendiri.’
J : Kenapa itu penting kak?
K : yang pertama karena di Indonesia pengguna internet banyak banget, bahkan melebihi jumlah penduduk Indonesia. Artinya, satu orang bisa punya dua HP dan semua connect dengan internet. Yang kedua, anak-anak sekarang ini sudah menggunakan internet. Dari kecil orang tua mulai ngelus-ngelus anak sambil nonton youtube, anak baru brojol udah diajak selfie. Di jamanku dulu itu kan nggak ada ya. Gede dikit, ortu sibuk anaknya ditontonin youtube. Itulah yang disebut dengan digital  native, yaitu anak yang lahir sudah lansgung terapar internet. Yang ketiga, banyak ancaman dari intenet yang mungkin orang tua belum paham. Yang juga membuatnya penting karena ada gap antara digital native dengan  digital imigran. Digital native itu orang yang dia lahir itu teknloginya udah ada. Dari tahun 1990 ke atas itu sudah bisa disebut digital native. Kalo digital native-nya yang bener-bener native internet dari lahir udah bisa main HP dan lain-lain tanpa ada perantara ya era milenial lah tahun 2000-an ke atas. Nah saingannya digital native ini adalah digital imigrant. Digital imigrant adalah mereka yang masih meganggap bahwa alat-alat teknologi idigital merupakan sesuatu yang asing. Perbedaan digital imigran sama digital native ini keliatan banget. Gernerasi Y, Z dan Alfa termasuk masa transisi dari digital imigran dan digital native, sudah paham dengan teknologi, menganggap bahwa komputer, video youtube, music, itu bisa digunakan sebagai media pembelajaran. Sedangkan orang tua sebagai digital imigran tidak memandang bahwa itu adalah sesuatu media pembelajaran, justru sebagai hal-hal yang menganggu anak-anaknya untuk untuk belajar. Kadang digital imigran itu melihat kita buka laptop aja udah sangsi duluan, padahal kita cuma buka microsoft word, mau ngetik. Nah, antipati ini yang kemudian membuat gap antara digital imigran dengan digital native. Jadi orang masang benteng duluan ketika anak-anaknya udah mulai buka gadget. Sebenernya, parenting di era digital ini adalah sebagai jembatan, seperti kita tinggal di lautan, nggak mungkin dong anaknya disuruh diem  aja di rumah. Pasti paling enggak kita ajarin dia buat renang lah, gitu.
J : Seberapa bahayanya bagi anak sih kak dengan adanya kemudahan akses terhadap gadget dan informasi, terutama kalau tanpa pengawasan.
K : Emm bahaya banget. Contohnya di kasus tawuran pelajar, banyak informasi itu user generated, artinya ngga ada saringanya sama sekali, dan saking bebasnya, anak-anak yang lagi emosi bisa asal nulis-nulis aja. Itu kalo buat anak-anak yang psikologisnya belum mateng akan menganggap hal-hal yang belum jelas tapi berbau provokasi sebagai sebuah lecutan atau kompor buat dia mengambil tindakan yang beresiko dan berbahaya. Era kemudahan informasi yang kaya gini semakin memudahkan orang untuk menerima apapun infonya, dan praktis apa yang dia dapat ya itu yang dilakuin. Nah, itulah asal mula hoax, orang bebas share apapun, yang sebenernya masih harus dipertanyakan lagi kebenarannya. Emm dan lagi masalah bullying di era digital, itu lebih berbahaya ya, itu lebih berbahaya karena impactnya luar biasa.
J : Itu tadi kan pengaruh buat anak-anaknya ya kak, kalo pengaruh buat yang selain anak-anak apa kak? Misal buat  orang tua, lingkungan, ketika mereka tidak menerapkan digial parenting?
K : Orang tua akan kehilangan anakya. Orang tuayang punya kesibukan akan beda dengan orang tua yang di rumah. Proteksi yang diberikanpun akan berbeda. Mereka yang punya full time proteksi, kalau tidak melakukan pengawasan pada anaknya, dia akan kehilangan anaknya. Tapi bagi orang tua yang ‘luweh-luweh  anakku meh dadi opo sesuk, anakku meh ngopo’(tidak peduli anak saya akan jadi apa besok, red), ya ngnggak akan jadi masalah, yang penting fasilitas yang mereka butuhkan aku sudah berikan.
J : Siapa saja yang perlu memahami parenting di era digital ? Apa cuma orang tua saja ? Atau anak-anaknya juga harus tau, atau negara juga ? Netizen ?
K : Ada namanya kolektif parenting. Parenting di era digital itu sebenarnya tidak hanya diperankan oleh orang tua, karena kalau dihitung, pembagian jam anak ada di rumah dan berinteraksi intensif dengan orang tua tidak lebih banyak dari jam mereka di sekolah, bermain, dan atau les. Berarti pengasuhan tidak hanya dilakukan oleh orang tua. Tidak bisa disalahkan sepenuhnya juga ketika orang tua sudah mati-matian melindungi di rumah, tapi di lingkungan dan di sekolahnya atau di tempat lain dia terpapar banyak pengaruh negatif. Maka sekolah pun perlu melakukan digital parenting. Caranya dengan melakukan pendekatan-pendekatan yang informatif menggunakan perangkat digital dengan anak. Jangan antipati dengan gadget dan internet, misal guru mewajibkan HP siswa disita selama di sekolah. Padahal HP anak itu bisa dijadikan alat bantu pembelajaran, nah tinggal bagaimana sekolah melakukan  monitoring pada alat bantu yang digunakan anak tersebut. Contohnya literasi digital. Survey tahun 2016 dari Yayasan Kita Dan Buah Hati kalo nggak salah, menyebutkan dari 2046 anak yang disurvey ada 21% diantaranya masih menggunakan  internet untuk belajar, dan 20% nya adalah main game. Setidaknya 21% masih unggul dibandingkan lini-lini yang lain. Nah berarti guru atau ingkungan masyarakat sekitar juga bisa memanfaatkan HP ini untuk menunjang pembelajaran.
J : Kalo diambil skala prioritasnya bisa ngnggak kak? Siapa dulu yang harus memahami  parenting di era digital?
K : Bisa. Skala prioritas kalo dari segi usia anak mulai berhubungan dengan internet, orang lain atau dunia luar, jelas yang pertama harus menerapkan digital parenting adalah orang tua.  Yang kedua, lingkungan kedua mereka yaitu sekolah.  Yang ketiga adalah lingkungan bermain, setelah itu baru lingkungan masyarakat.
J : Anak-anak perlu tau ngnggak kak kalo mereka sedang diberi perlakuan digital parenting?
K : Harus.
J : Harus dikasih pengertian ya kak?
K : Sebenernya digital parenting itu kan bukan konsep terpisah dari pengasuhan, cuma model pendekatanya aja yang beda. Orangtua yag tadinya tidak mengunakan HP sebagai media pegasuhan, sekarang jadi melibatkan HP. HP itu sebagai tool, atau ada alat tambahan di interaksinya dengan anak. Sebenanya hanya menambahkan tool itu aja. Jadi kalo misalnya mereka harus dipahamkan mungkin pemahamannya lebih ke bagaimana orang tua ini memberikan pengertian ke orangtua untuk mengarahkan anak, contohnya : kalian harus terbuka lho sama orang tua dengan penggunaan HP ini, aturan ini, dan sebagainya.
J : Apa saja yang harus dilakukan atau disampaikan kak?
K : Yang harus di-share ke mereka contohnya bahaya-bahaya yang bisa dijumpai di internet itu apa aja. Kalau main game online kelamaaan itu resikonya apa seperti resiko kesehatan dan lain-lain. Jadi mereka diajak berfikir dan supaya mereka paham resikonya.
J : Kalo misal nih kak ada orang tua yang digital imigran, dan  punya anak digital native, pasti kan kesulitan banget ya. Udah orang tua nggak terlalu paham, dan anaknya ngeyel aja, orangtuanya kuwalahan. Gimana cara mengatasinya?
K : Itulah petingnya  orang tua juga harus dibekali dengan kemampuan berinternet. Kalau di rumahku sendiri sebenernya ibukku sudah mulai bergerak mengajarkan ke posyandu gitu buat mengedukasi orang tua lain, contoh : HP nya itu dibuka, HP anaknya juga dibuka, isinya apa. Sebenernya orang tua kan kebanyakan  khawatirnya sama game ya, kenapa sih anak nge-game dan nge-game nya tu bisa addict  banget? Orang tua kan nggak ngeh  itu game nya apa, sesuai atau enggak. Nah sebenrnya di game  itu ada ratingnya, misal ada logo 13+  atau C atau  apa itu kita infomasika ke orang tua, supaya mereka tau ketika game itu diinstal di HP anak-anak  dan ternyata  kok itu belum sesuai  dengan  usianya,  maka harus  didampingi. Kalau misalnya anak-anak  sudah addict  banget juga didampingi dan diberi pengertian terus.
J : Selain komunikasi dengan orang tua, apakah harus ada campur tangan dari pihak luar Kak? Negara misalnya?
K : Emm mungkin pemerintah, tapi cakupannya sangat besar. Sebenarnya pemerintah punya fasilitas untuk itu. Mereka (pemerintah) bisa memfasilitasi bagaimana digital parenting benar-benar digalakkan dengan baik. Tapi entah kenapa masih belum, mungkin karena mereka (pemerintah) juga masih digital imigran hehe. Harus diperbanyak workshop lah, bukan hanya sosialisasi yang mana orang tua tetap belum tau cara mengimplementasikan ilmu digital parenting itu.
A : Kalau liat anaknya ngegame coba orang tua suruh ikut main game dengan anaknya, gitu gimana Kak?
K : Justru itu  contoh implementasi yang bagus.
A : nice… such a fun parenting…
K : Penting juga membuat semacam MOU dengan anak, atau perjanjian-perjanjian di awal. Misalnya : dek, nanti pegang HP nya sejam aja ya, habis itu ditutup ya.
J : kalo anaknya jawab : waaah lagi war e mah!
K : Iya biasanya kayak gitu, dan itu tantangannya. Bagi orang tua yang dari awal tidak care, atau baru akan mencoba care, akan kesulitan di situ. Anak akan mikir : apaan sih, orang biasanya juga ngnggak papa. Karena orang tua tu biasanya cuma marah aja dan melarang tidak boleh mainan HP terus, sedangkan anak mikirnya : ‘lha terus mau ngapain aku’. Dan itu juga karena anak nggak tau bad effect sama positive effectnya, jadi asal main aja.
J : Ada juga anak yang kalo jawab pertanyaan : “kamu tu belajar, nggak mainan HP aja!”. Si anak jawabnya : lha aku 8 jam di sekolah kan sudah belajar, bukan jualan pecel.
K : Nah ya gitu, tapi itu memang benar, dan nggak bisa dipersalahkan juga karena itu waktu sisa (prime time) dengan orang tua. Jika kesempatan itu bener-bener akan digunakan untuk pendekatan digital parenting, coba izin aja boleh main game nggak? Atau kalau boleh berapa jam? Misal satu setengah jam. Ok, satu setengah jam. Nanti di-alarm 15 menit sebelum selesai : Dek udah jam berapa nih?
J : Anak di sekolah misal dari jam 07.00 sampai jam 04.00 sore, mereka ngnggak boleh pegang HP.  Tapi mereka tetap dibawain HP kan buat pesan gojek dan sebagainya. Nah mereka nanti pulang masih les, jadi dikit sekali waktunya dan anak jadi punya alasan buat main game juga.
K : Itu pentingnya parenting di era digital itu tidak hanya dilakukan oleh orang tua. Di sekolah pun menggunakan pendekatan digital, agar anak lebih dekat dengan internet yang lebih bermanfaat. Masalahnya lagi, guru juga masih sering antipati dengan HP dan internet.
J : Mungkin karena mereka digital imigran.
K : Sekolah-sekolah di Jogja belum melakukan pendekatan internet karena bagi mereka itu bahaya. Padahal justru mereka harus didekatkan (dengan internet) di era sekarang, karena semakin anak-anak diberi batas waktu, dan tidak diajarkan dengan benar, mereka malah nyari-nyari dan nyuri-nyuri sendiri. Ada survei Kakatoo School, yaitu aplikasi yang di-install di suatu sekolah bertujuan untuk mengetahui jam berapa si anak main HP, akses apa aja. Mungkin agak berbenturan dengan UU ITE karena itu kan mengambil privasi orang, tapi ini hanya untuk orang-orang tertentu yang bisa mengakses itu dan itu juga dilakukan demi kebaikan anak. Risetnya menyebutkan bahwa anak-anak main HP jam 12.00 pagi sampai jam 04.00 pagi. Itu karena orang tua ngasih fasilitas HP, tapi di sekolah dia nggak boleh dipakai, di rumah juga dibatasi, lebih disuruh ngerjain PR. Nah waktu orang tuanya udah tidur inilah jam-jam mereka bebas akses.
J : Padahal kan efeknya kalau begadang jam segitu buat anak sekolah juga pastinya bikin ngantuk di sekolah, ngnggak fokus, banyak gangguan kesehatan juga ya. Ok kak. Nah sekarang kita bicara tentang indikator, kira-kira kemampuan apa aja sih yang dimiliki anak-anak maupun orang tua dari proses parenting di era digital?
K : Ini buat orang tua ya, pertama mereka harus bisa ngerti fitur-fitur yang bisa diakses dari HP atau komputer atau perangkat apapun yang terhubung dengan internet. Nah mereka juga harus tau internet itu apa dan gimana cara kerjanya. Atau kompetensi tentang bagaimana orang tua memahami tools atau apapun perangkat yang terhubung dengan internet. Kedua, mereka harus tahu bagaimana mengoperasikan perangkat perangkat ini dari hal sepele misalnya mengoperasikan WhatsApp, dan aplikasi-aplikasi yang terinstall di HP. Itu tantangan beratnya sih karena ini berhadapan dengan digital imigran yang mana sudah telat tau atau masuk ke dunia digital ini. Yang ketiga orang tua atau keluarga terdekatnya si anak ini juga harus mengerti aplikasi yang terpasang di HP anak ini apa aja misalnya game, atau di HP anak ada fitur password. Nah password-nya apa aja yang dimiliki oleh anak. Intinya yang ketiga ini kemampuan orang tua untuk membuka password dan mengetahui HP anak. Jangan sampai kita nggak tau.
J : Terus gimana kak solusinya kalau orang tua nggak tau atau nggak bisa akses HP anak?
K :  Yang terpenting adalah kesepakatan di awal dengan anak, misalnya HP tidak boleh di-password, atau orang tua harus tau password anak, atau juga jam berapa boleh main HP, dan semacamnya. Jadi komunikasi dari awal banget itu yang penting. Berdasarkan pengalaman ya kalau sebuah pengasuhan itu sudah carut-marut dari awal, treatment-nya lebih ke keluarganya dulu. Bagaimana membangun hubungan psikologis yang baik antara kedua belah pihak (orang tua dan anak). Kemudian coba libatkan psikolog, untuk mengetahui latar belakang anak menjadi susah membangun hubungan baik dengan orang tua. Nah itu juga bakal menjadi bahan dari tim ahli anak, ada masalah apa dengan masa lalu, mengalami masalah di tahap perkembangannya yang sekarang juga perlu sebagai orang tua untuk berhati-hati dalam berkomunikasi dengan anak, maksudnya jangan terlalu berlebihan atau jangan terlalu kurang, dan orang tua harus konsekuen dengan ucapan maupun perjanjian yang sudah dibuat dengan anak.
I : Di parenting di era digital itu ada isu-isu tentang security access kaya kalau kita menginstall aplikasi itu kan kita harus ngasih izin misalnya boleh akses internet, kamera, kontak, galeri atau apa gitu, nggak kak?
K : Ada. Security access dari HP anak itu harus diaktifkan dan kalau bisa sebelum HP diberikan ke anak, jadi anaknya nggak tahu kalau HPnya sudah difilter dari beberapa hal. Kemudian kalau ada konfirmasi-konfirmasi aplikasi, orang tua juga harus tau, karena kalau anak biasanya tinggal klik OK-OK aja apalagi di game kan tinggal tuk tuk tuk tuk aja gitu selesai. Ngomongin tentang game, sebenarnya game online secara psikologis dapat membentuk kepribadian anak. Ketika dia tidak mendapat pengakuan di rumah, tidak mendapat kasih sayang dari orang tuanya, dia akan mencari tempat lain yang bisa mengakomodir kemauan dan harapannya. Di game contohnya ketika menang akan sangat meriah ditampilkan ‘CONGRATULATION !!’, bahkan ketika kalah tetap disemangati : ‘I’m so sorry… You can try again…’, atau lagi ketika sudah lama nggak buka game, kemudian buka lagi pasti akan tetap di ‘welcome’in. Buat orang dewasa mungkin udah bukan masalah, tapi buat anak-anak dan itu kayaknya di bawah sadar itu enak banget kaya merasa disambut terus, diperhatikan terus. Sedangkan di kehidupan nyata, anak sering menerima perkataan yang menyakitkan semacam : gimana toh Dek, udah disekolahin mahal-mahal, dilesin mahal-mahal, cuma buang waktu aja, nggak ada peningkatan. Dalam hati anak pasti akan berkata : emang siapa yang minta aku di sekolahin? Bayangin aja itu anak kecil itu menerima kalimat yang seolah-olah orang tuanya sendiri terpaksa untuk merawat dia. Ini sebenernya susah karena kita berbicara secara teoritik, sedangkan mungkin besok ketika kita menerapkan Parenting pun juga akan menemukan hal yang sama. Hal ini karena anak-anak memang out of the box banget, nggak terduga lah, udah kita pelajari baik-baik, tapi kadang suka meleset juga. Kadang apa yang nggak kita pikirkan mereka bisa akses pun, akhirnya mereka bisa akses juga. Yang jelas kita juga ngnggak bisa memaksakan karena kondisi keluarga itu berbeda-beda. Konsep parenting di era digital pun juga harus disesuaikan dengan kondisi keluarganya.
J : Aaaaa keren banget hahaha kita jadi tau banyak hal banget ya, makasih banyak Kaer, sepertinya cukup dulu ya besok kalau kita nggak tau kita tanya lagi hahaha. Eh konklusinya dulu Kak.
K : Konklusinya, satu seperti aku bilang tadi kita nggak bisa memaksakan orang untuk melakukan sebuah metode di parenting, apalagi parenting di era digital. Kita harus paham dulu kondisinya, masalahnya sejauh apa,  dan baru tau treatment parenting di era digitalnya seperti apa. Yang kedua untuk melakukan parenting di era digital itu bukan sesuatu yang mudah. Parenting di era digital ini sebenarnya harus merupakan komitmen dari banyak orang, banyak pihak. Kalau cuman dari orang tua yang melakukan digital parenting, ya nggak bisa, karena anak hidup di beberapa dimensi yaitu keluarga, sekolah, masyarakat, teman sepermainan, yang mana mereka semua hatus ikut menjadi tokoh dalam kegiatan parenting di era digital.
J : Okay… keren bangeeet Kaer…  give applause to Kaeerr, dan terima kasih Kaeeeer….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *