UN, Depresi, dan Bunuh Diri

Gambar diambil dari google

Ujian Nasional atau sering disebut UN merupakan salah satu tolok ukur pemerintah dan pihak sekolah untuk meluluskan siswa pada jenjang pendidikan tertentu. UN dilaksanakan mulai dari jenjang SD sampai SMA. UN sudah bukan satu-satunya tolok ukur untuk menyatakan kelulusan siswa, namun UN seringkali tetap menjadi momok bagi sebagian orang, tak terkecuali para guru maupun lembaga bimbingan belajar yang beramai-ramai mengadakan bimbingan maupun motivasi yang ‘sedikit berlebihan’ dengan tujuan menyukseskan UN. Akan tetapi proses ini secara tidak langsung memunculkan ketegangan pada diri siswa. Ketegangan siswa saat menghadapi ujian nasional dapat berupa kecemasan, depresi hingga berujung pada keputusan siswa untuk memilih bunuh diri.

Depresi

American Psychological Association (APA) (2000) memberikan definisi depresi merupakan perasaan sedih atau kosong yang disertai dengan penurunan minat terhadap aktivitas yang menyenangkan, gangguan tidur dan pola makan, penurunan kemampuan berkonsentrasi, perasaan bersalah yang berlebihan, dan munculnya pikiran tentang kematian atau bunuh diri. Depresi adalah keadaan patah hati atau putus asa yang disertai dengan melemahnya kepekaan terhadap respon tertentu, pengurangan aktivitas fisik maupun mental dan kesukaran dalam berpikir (Kartono dan Gulo dalam Fitriani dan Hidayah 2012).

The U.S National Institute of Mental Health (NIMH) (Kroning& Kroning, 2016) menemukan bahwa 2.7 juta remaja berusia 12 – 17 tahun mengalami permasalahan depresi pada tahun 2013. American Psychological Association (APA) (2000) memberikan definisi depresi merupakan perasaan sedih atau kosong yang disertai dengan penurunan minat terhadap aktivitas yang menyenangkan, gangguan tidur dan pola makan, penurunan kemampuan berkonsentrasi, perasaan bersalah yang berlebihan, dan munculnya pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Bunuh Diri

Sering kita melihat pemberitaan di media baik media cetak maupun elektronik yang membahas mengenai kasus bunuh diri. Kasus bunuh diri ini tidak hanya yang telah dilakukan oleh mereka yang telah dewasa tetapi oleh mereka juga yang masih remaja, baik dari kalangan sosial ekonomi menengah ke bawah maupun yang tinggi, atau publik figur sekalipun.. Sebagai contoh kasus bunuh diri yang sempat menggemparkan para penggemar band Korea adalah ketika salah satu personil dari “SHINEE” yaitu Jonghyun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Belakangan diketahui bahwa keputusan Jonghyun mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri ini dipicu dari permasalahan yang ada permasalahan yang menimbulkan depresi pada diri Jonghyun sendiri (www.dw.com). Kasus lain yang tak kalah menggemparkan adalah kasus kematian vokalis band kenamaan Linkin Park yakni Chester Bennington, dilansir dari CNN Indonesia bahwa kematian Chester dengan cara bunuh diri disebabkan karena depresi. Permasalahan depresi juga melanda sejumlah publik figure lain seperti Chris Cornell dan Robin Williams yang memilih bunuh diri untuk menghilangkan depresi yang ia rasakan (www.cnnindonesia.com).

Kasus bunuh diri nyatanya tak hanya terjadi di luar negeri, namun juga banyak terjadi di Indonesia. Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat pada tahun 2015 terjadi setidaknya 812 kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, kasus bunuh diri yang terjadi ini sebagian disebabkan oleh faktor depresi yang dialami (www.kumparan.com).

Keputusan bunuh diri juga banyak dilakukan oleh siswa yang depresi karena tertekan dalam bidang akademis. Banyak kasus yang terkespos melalui media tv maupun media cetak elektronik yang menyiarkan berita-berita mengenai siswa-siswa yang memutuskan untuk memilih bunuh diri yang berkaitan dengan ujian nasional, atau depresi dengan nilai mata pelajaran. Contohnya seperti salah satu siswi SMA di Jakarta bunuh diri dengan terjun dari apartemen lantai 33 dan siswi SMK di Sumatera utara bunuh diri setelah diintimidasi guru karena mengunggah bocoran UN. Kasus bunuh diri karena ujian nasional tidak hanya dialami oleh siswa SMA / SMK namun siswa SMP juga mengalami kecemasan hingga berujung pada keputusan bunuh diri. Kasus tersebut seperti kasus yang terjadi di kota Blitar, yaitu seorang siswi SMP bunuh diri karena khawatir nilai UN yang ia peroleh tidak memenuhi syarat untuk mengantarkan ke SMA yang ia idamkan (Surabaya.tribun, 2018).

O’Connor dan Nock (Valentina & Helmi, 2016) mengatakan bahwa perilaku bunuh diri mengacu pada pikiran-pikiran yang terkait dengan intensi seseorang untuk mengakhiri hidup mereka sendiri. Pada kenyataannya memang pemasalahan bunuh diri merupakan permasalahan yang serius yang diawali dengan ketidakberdayaan seseorang menghadapi tekanan atau permasalahan yang memunculkan perasaan sedih, kosong, putus asa dll. Ketidakberdayaan menurut Wenzel, Brown, dan Beck (Valentina & Helmi, 2016) adalah suatu keyakinan individu bahwa masa depan yang akan mereka jalani adalah sesuatu yang menakutkan dan persoalan-persoalan yang dihadapi dimasa depan tidak memiliki jalan keluar. Dalam hal ini remaja yang memilih keputusan untuk bunuh diri dapat diindikasikan bahwa mereka memiliki keyakinan mengenai masa depan yang menakutkan. Selain ketidakberdayaan dalam menghadapi masa depan, depresi dapat juga menjadi pemicu seseorang untuk mengakhiri hidupnya.

Meminimalisir Keinginan Bunuh Diri   

Ketika seseorang mengalami depresi, ada beberapa faktor yang dapat menurunkan tingkat depresi sehingga keinginan untuk bunuh diri menjadi semakin kecil. Faktor-faktor tersebut diantaranya kepribadian yang tangguh, harga diri dan dukungan sosial. Retnawati dan Munawaroh (2009) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan ketika seorang remaja memiliki kepribadian tangguh, harga diri dan dukungan sosial maka akan semakin kecil depresi yang dialami remaja. Dukungan sosial yang diterima seseorang ketika mengalami depresi dapat menurunkan keinginan seseorang untuk bunuh diri

  1. Kenali dirimu

Seseorang remaja yang melakukan bunuh diri karena ketidakberdayaan remaja dalam menghadapi tekanan sehingga menimbulkan depresi. Untuk mengatasi hal tersebut salah satu caranya adalah dengan mengenal diri sendiri. Masa remaja yang juga dikenal dengan masa storm dan stress ini dimulai sejak usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Pada masa remaja dikenal dengan masa storm dan stres ini karena masa goncangan yang ditandai dengan konflik dan perubahan suasana hati (Hall dalam Santrock, 2003). Pada masa ini jika remaja dapat mengenal diri sendiri yang bersifat psikis, sosial dan fisik. Mengenal diri sendiri berarti memahami diri sendiri, mengetahui kapan harus marah, kapan harus bahagia, kapan harus diam, tahu tentang kemampuan diri, dan dapat merespon dengan baik saat mengalami hal-hal yang bersifat menekan atau menimbulkan kecemasan dan hal-hal yang membahagiakan. Memahami diri sendiri dapat juga disebut dengan istilah konsep diri. Hurlock (1999) menyatakan konsep diri adalah pandangan individu terhadap dirinya sendiri. Konsep diri menurut Burn (dalam Pudjijogyanti, 1985) sebagai hubungan antara sikap dan keyakinan tentang dirinya sendiri. Konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisiknya, seperti karakteristik pribadi, motivasi, kelemahan, kepandaian, dan lain sebagainya

2. Ceritakan keresahanmu

Bercerita merupakan salah satu cara untuk dapat meminimalisir stress dari dalam diri. Bercerita dapat dilakukan dengan teman dekat, guru yang telah dipercaya dan memiliki kedekatan secara emosional, orang tua, maupun pskiater. Menceritakan tentang ketakutan atau ketegangan dapat membuat diri terasa lebih ringan, apalagi bila lawan bicara juga turut meberikan alternatif pemecahan masalah.

Menceritakan keresahan dapat pula diwujudkan dalam bentuk tulisan. Beilock dan Willingham dalam tulisannya yang bertajuk “Math Anxiety (Ketakutan Matematika)” menyarankan siswa menulis testimoni tentang kesulitan yang mereka hadapi selama tes, atau hal-hal yang membebani pikirannya. Hal tersebut dilakukan untuk meringankan beban pikiran negatif yang ada pada memori kerja yang kemudian dapat mereduksi stress dan memudahkan kerja otak untuk menyelesaikan permasalahan, sehingga siswa dapat berfikir ternyata matematika (atau pelajaran lain -ed) tidak semenakutkan itu.

3. Dukungan sosial

U.S Departement of Health and Human Services yang mengemukakan bahwa faktor yang meningkatkan seseorang melakukan bunuh diri adalah ketika seseorang tidak mendapatkan dukungan dari orang lain ketika memiliki permasalahan depresi. Dukungan sosial tidak hanya didapatkan dari keluarga tetapi juga dapat diperoleh dari teman sebaya.

Dukungan sosial menunjukkan pada hubungan interpersonal yang melindungi individu terhadap konsekuensi negatif dari stres. Dukungan sosial yang diterima dapat membuat individu merasa tenang, diperhatikan, dicintai, timbul rasa percaya diri dan kompeten (Kumalasari & Ahyani, 2012). Dukungan sosial juga sangat erat kaitannya dengan efikasi diri, hal ini berarti ketika dukungan sosial tinggi maka efikasi diri pada seseorang yang memiliki permasalahan juga tinggi. Efikasi diri adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan mengorganisir suatu masalah, sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru.  Ketika seseorang memiliki efikasi tinggi maka seseorang akan akan dengan cepat mendapatkan solusi dari sebuah permasalahan, tidak akan mudah putus asa dan atau sampai melakukan tindakan bunuh diri.

Dalam menghadapi tekanan akibat ujian nasional, dukungan sosial merupakan hal yang penting untuk meminimalisir depresi sampai keinginan bunuh diri pada siswa. Sugiarti (2010) dalam penelitiannya yang meneliti mengenai dukungan sosial, konsep diri dan prestasi belajar siswa menemukan hasil bahwa dukungan sosial yang diberikan orang lain dan konsep diri yang ada pada diri siswa dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Hal ini berarti ketika seorang siswa dapat memandang dirinya mampu melakukan sesuatu dan itu didukung oleh orang lain atau lingkungan sosial atau orang tua atau guru maka dapat mempengaruhi siswa dalam menghadapi ujian nasional.

Selain dari keluarga, dukungan sosial bisa datang dari lingkungan masyarakat sekitar dan teman sebaya. Dukungan sosial teman sebaya adalah suatu bentuk perhatian dari teman sebaya agar seseorang merasa dicintai, dihargai, timbul rasa percaya diri dan kompeten dalam menghadapi suatu permasalahan yang menghampiri (memiliki efikasi diri yang baik)

Sejatinya, Ujian Nasional merupakan salah satu dari sekian banyak evaluasi yang dilakukan dalam proses belajar. UN tidak dimaksudkan untuk menambah beban siswa, melainkan untuk menentukan langkah yang tepat setelah evaluasi tersebut, seperti mengetahui kecenderungan bakat akdemis siswa yang dapat digunakan untuk merencanakan karir akademisnya mendatang. Lebih dari semua itu, kesehatan mental adalah hal yang paling penting di atas segala kepentingan target akademis seperti Ujian Nasional. Jadi, jangan sampai beban UN menggangu kesehatan mentalmu ya, karena kamu lebih berharga dari sekedar nilai UN… J

Referensi

American Psychological Association (APA). (2000). Diagnostic and StatisticalManual of Mental Disorders (DSM IV-TR) Fourth Edition. WashingtonDC: APA.

Fitriani,.A. & Hidayah.,N. (2012) Kepekaan Humor dengan Depresi pada Remaja ditinjau dari Jenis Kelamin. Humaniora. 9(1)

Kumalasari,.F. & Ahyani,L.N (2012) Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Penyesuaian Diri Para Remaja Panti Asuhan. Jurnal Pitutur. 1(1)

Kroning.,M. &Kroning.,K. (2016) Teen Depression and Suicide: A silent Crisis. JCN. 33(2)

Hurlock, E.B. 1999. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih bahasa: Istiwidayati & Soedjarwo. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga

Makmun, A.S. (2012). Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Pudjijogjanti, C. R. (1985). Konsep Diri dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penelitian Unika Atmajaya.

Rensi & Sugiarti, L.R. (2010). Dukungan sosial, konsep diri, dan prestasi belajar siswa SMP Kristen YSKI Semarang. Jurnal Psikologi. 3(2)

Retnawati.,S. & Munawaroh,.S.M (2009) Hardiness, Harga diri, dukungan sosial dengan Depresi para remaja penyitas bencana di Yogyakarta. Humanitas. 6(2)

Santrock, J.W.(2007). Remaja Jilid 1. Edisi 11. Alih Bahasa: Widyasinta, B. Jakarta: Penerbit Erlangga

Sian L Beilock dan Daniel T Willingham. 2014. Math Anxiety: Can Teachers Help Students Reduce It?.

American Educator, Summer 2014.

Valentina, T.D. & Helmi, A.F (2016). Ketidakberdayaan dan Perilaku Bunuh Diri: Meta

http://www.dw.com/id/jong-hyun-shinee-bunuh-diri-karena-depresi/a-41858973(Jong Hyun SHINee Bunuh Diri Karena Depresi, diakses pada 23 Januari 2017)

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170721083531-255-229342/kematian-chester-bennington-dan-penyebab-utama-bunuh-diri (Kematian Chester Bennington dan Penyebab Utama Bunuh Diri, diakses pada 23 Januari 2017)

https://kumparan.com/@kumparansains/tren-bunuh-diri-di-indonesia-dan-mancanegara (Angka Bunuh Diri di Indonesia dan Cara Mencegahnya, diakses pada 24 Januari 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *